Kota Ini Tak Sama Tanpamu

       Tahun ini akan menjadi tahun yang teramat hampa. Kembali mereset semua dari 0, belajar bahwa semua kekecewaan yang terjadi diizinkan oleh ekpektasi diri yang terlalu tinggi. Banyak hal yang harus dikoreksi sebelum pada akhirnya membuka diri kembali, ini tentang semuanya bukan hanya tentang mencinta. Sampai pada akhirnya bertemu disuatu momen yang aku yakini bisa membuka kembali cela yang sudah dalam ku kubur.

        Naasnya perempuan ini bukan manusia pemberani dengan kepercayaan dirinya. Lagi-lagi diam selalu menjadi jalan bisu yang dilalui, padahal jelas kesempatannya jauh lebih luas jika mau memulai. Dalam situasi seperti ini otak dan hati selalu tidak pernah seirama, hati mengatakan iya dan otak mengatakan tidak. Padahal jelas lagi-lagi yang ini sesuai dengan apa yang ku mau. Iya, sangat sesuai dengan apa yang kumau. Tapi aku tidak berani. 

    Bodohnya lagi, perasaan itu muncul disaat sudah usai perjalanan panjang itu. Mungkin pada saat melakukan skenario aku terlalu sibuk dengan banyak hal, atau mungkin memang tuhan membuat cerita agar bisa bercengkrama di akhir skenario. POV baru yang kutemukan membuat aku suka, bahwa memang benar cerita dibalik seorang manusia membuat kita tertegun dan merubah perspektif nalar kita. Iya, semoga saja ada sequelnya. Katakan saja padaku ya 2026. 


Komentar

Postingan Populer